0 comments Friday, May 11, 2007

Foto ini diambil oleh Fotografer Kevin Carter di Sudan ketika kelaparan melanda negara tersebut pada tahun 1994 dan memenangkan penghargaan jurnalistik Pulitzer Prize di tahun yang sama. Seekor burung bangkai menunggu kematian seorang anak yang sekarat agar bisa dimakan. Tidak ada yang tahu apa yang akhirnya terjadi pada anak itu kemudian, termasuk Kevin Carter yang meninggalkan tempat tersebut segera setelah mengambil foto. Tiga bulan kemudian sang fotografer memutuskan untuk bunuh diri karena depresi.

0 comments Thursday, May 10, 2007




Seniman dan Komposer Kostabi dilahirkan di Los Angeles tahun 1960. Ia adalah pelukis kontemporer yang karya-karyanya mendapat pujian banyak peminat lukisan karena memang lain dari pada yang lain. Goresan tiga dimensinya yang lebih sering menampilkan obyek tanpa wajah menjadi daya tarik sendiri. Lukisan Mark Kostabi pernah dipakai Guns n’ Roses di double album mereka Use Your Illusions. Selain melukis Kostabi juga dikenal sebagai seorang komposer yang produktif. Musik Kostabi ditampilkan secara orkestra maupun solo termasuk oleh Rein Rannap, Kristjan Jarvi, Maano Manni, Delilah Gutman, the Estonian National Symphony Orchestra, dan dia sendiri. Rekamannya antara lain dalam bentuk CD misalnya : I Did It Steinway, Songs For Sumera and New Alliance.

0 comments Friday, May 4, 2007


Selamat datang di pulau Bali. Selamat datang di pulau Dewata, The Island of a Thousand Temples dan sebutan-sebutan lain yang membuat orang penasaran untuk datang ke Bali. Brosur-brosur tentang Bali tersebar ke seluruh dunia, baik oleh biro perjalanan, maskapai penerbangan, hotel-hotel dan semua pihak yang berkepentingan dengan kedatangan wisatawan ke Bali. Semua brosur menyatakan keindahan panorama Bali, budaya yang luhur dan masyarakatnya yang ramah kepada pendatang. Alangkah indahnya pulau ini. Bahkan ada orang luar yang menyatakan bahwa Bali adalah surga terakhir yang tersisa di Bali setelah Taman Eden. Ia sendiri ingin mati dan dikubur di Bali. Waduh!! Kalau ada seribu orang yang berpikiran seperti dia, maka Bali harus menyediakan tanah-tanah kuburan untuk mengubur mereka.

Lalu apa yang terjadi dalam masyarakat Bali? Apakah hal itu menyebabkan orang Bali berubah? Nah, inilah masalahnya. Brosur-brosur tentang keindahan Bali itu ternyata juga mengendap dalam benak masyarakat Bali. Budaya yang luhur, masyarakat yang ramah dan penuh senyum (umumnya kami orang Bali selalu tersenyum jika ditanya oleh orang asing, justru untuk menutupi ketidakbisaan kami berbahasa mereka…), dan banyak hal-hal indah yang ada di brosur itu membuat masyarakat terlena. Semua sendi kehidupan orang Bali yang dulunya merupakan bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta (Tuhan) berpindah rel menuju pengabdian kepada gemerincing dollar di saku para wisatawan. Semua hal harus sesuai dan mencirikan keluhuran budaya yang ada di brosur. Ambiguitas antara brosur dan budaya yang sebenarnya terjadi. Menyedihkan tapi kadang lucu.

Bisa dikatakan lucu karena kesenian-kesenian yang dulunya dipentaskan di pura sebagai pelengkap upacara keagamaan bisa ditonton di halaman hotel. Menyedihkan karena patung Budha dipakai hiasan di pusat-pusat spa. Salahkah? Tentunya salah-benar tergantung konteks. Brosur pariwisata telah memuat hal-hal ini maka sudah seharusnya akomodasinya juga sesuai dengan brosur. Jika tidak, maka wisatawan harus menunggu sampai ada upacara keagamaan hanya untuk nonton tari Pendet. Maka dibuatlah pertunjukan itu tanpa perlu ada atau tidak upacara agama. Semuanya dilakukan untuk memanjakan wisatawan yang datang ke Bali. Semuanya dikemas dalam paket pariwisata, semuanya harus ada, harus lengkap.

Ironisnya lagi hotel-hotel dibangun tanpa mempedulikan lagi keharmonisannya dengan lingkungan sekitar. Bahkan tempat-tempat yang dulunya dianggap suci oleh pendahulu orang Bali sekarang harus kalah dengan dunia baru yang bernama pariwisata. Pura-pura (maaf, tolong dibaca pure-pure) menjadi obyek dan di sekitarnya dibangun hotel-hotel agar para tamu mudah mencapai pura yang artinya lebih mudah menikmati budaya yang luhur itu. Hanya perlu membuka jendela hotel, langsung bisa dilihat.

Untuk memenuhi kebutuhan energi hotel-hotel dan sarana lainnya, gunung yang sucipun harus dirabas, dibor, dipasangi pipa guna mengeluarkan panas bumi untuk pembangkit listrik. Orang-orang yang berkepentingan menakut-nakuti masyarakat jika tidak dibangun pembangkit baru, beberapa tahun lagi Bali akan gelap. Maka harus dibangun guna memenuhi kebutuhan hotel-hotel dan sarana pariwisata yang rakus energi, demi untuk menunjukkan keluhuran budaya.

Maka, sekali lagi kami ucapkan selamat datang di Bali, Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, pulau seribu kepura-puraan. Nikmatilah budaya yang luhur ini yang kami persembahkan untuk anda melebihi dari apa yang bisa kami persembahkan untuk dewa-dewa kami.

16 comments

Calonarang adalah seorang janda tua yang hidup di sebuah desa yang merupakan bagian dari wilayah kerajaan Daha di Jawa Timur. Dirah, nama desa itu. Sang janda yang mendapat julukan "Rangda ing Dirah" atau janda dari negeri Dirah memiliki seorang putri yang bernama Diah Ratna Manggali. Saat itu kerajaan Daha dipimpin oleh raja Airlangga yang sangat terkenal. Saking terkenalnya saat ini universitas di Jawa Timur diberi nama Universitas Airlangga. Beliau disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu. Dalam pandangan orang bijaksana, sebutan titisan Dewa Wisnu merupakan predikat yang diberikan kepada raja yang dalam pemerintahannya mampu mensejahterakan rakyat dan melindungi negeri dari bahaya luar. Namun bagi masyarakat umum saat itu, itu bukanlah predikat, namun sebuah dogma. Beliau memang titisan Dewa Wisnu.

Dikisahkan bahwa tak ada pemuda dari seluruh kerajaan yang mau menjadikan Manggali istri karena kabar yang santer terdengar Calonarang adalah penganut ilmu hitam. Sesungguhnya Manggali adalah gadis desa yang cantik, berbudi baik dan ramah kepada semua orang. Namun gadis malang ini menjadi korban dari predikat yang disandang oleh sang ibu. Karena tidak ada yang mau melamar anak gadisnya yang sudah mulai memasuki usia nikah, murkalah sang janda. Dengan kekuatan yang dimilikinya dan dibantu oleh beberapa muridnya, Calonarang menyebarkan kekuatan teluh yang didapat dari Bathari Bhagawati. Satu persatu warga desa tewas karena wabah penyakit.

Kabar tentang kejahatan Calonarang akhirnya sampai di telinga raja. Berbagai upaya dikerahkan oleh raja untuk mengalahkan sang janda dari Dirah, termasuk menitahkan patih kerajaan, namun ternyata sia-sia. Akhirnya brahmana kerajaan Empu Bharadah dimintai bantuan. Sang Brahmana mengutus muridnya Empu Bahula untuk menyelidiki kekuatan Calonarang. Kedatangan Empu Bahula ke desa Dirah disambut penuh suka cita oleh Calonarang. Tentunya juga Diah Ratna Manggali. Singkat cerita akhirnya mereka menikah. Keduanya hidup bahagia sebagai suami-istri, namun tugas kerajaan tetap harus dijalankan. Beberapa bulan di desa Dirah membuat Empu Bahula tahu sumber kekuatan sang mertua.

Dengan diketahuinya rahasia kekuatan Calonarang, Empu Bharadah akhirnya dapat mengalahkan Calonarang dan kerajaan Daha tentram kembali. Kisah ini diakhiri dengan kematian Calonarang yang penuh kebahagiaan karena Diah Ratna Manggali telah menemukan tambatan hatinya.

Sampai sekarang kisah ini tetap menjadi kisah yang menarik di Bali dan dijadikan tema utama dari berbagai kesenian seperti drama tradisional dan wayang kulit. Setiap pementasan cerita Calonarang selalu dihiasi dengan unsur magis yang menyebabkan pementasan menjadi menyeramkan. Semua pementasan yang berhubungan dengan Calonarang selalu menempatkan Calonarang sebagai tokoh antagonis yang menjadi simbol kejahatan. Kata "Rangda" di Bali mengalami pergeseran makna dimana "Rangda" saat ini digunakan sebagai istilah bagi sosok mengerikan dengan rambut panjang berjuntai, mata melotot, taring panjang, ditambah dengan lidah panjang yang selalu menjulur. Dalam tari Barong, rangda mewakili sifat jahat manusia dan barong mewakili sifat baik manusia. Padahal rangda awalnya berarti janda atau wanita yang telah ditinggal suaminya.

Sekarang ini banyak analisis yang dilontarkan sehubungan dengan cerita ini. Salah satunya adalah, dalam teks yang ditemukan dalam bahasa Jawa Kuno tidak diceritakan kondisi politik kerajaan Daha saat itu. Predikat titisan Wisnu yang disandang raja menjadikan kekuasaan raja absolut, sehingga pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan kebijakan kerajaan akan dianggap sebagai pikiran jahat yang harus ditumpas. Desa Dirah sendiri adalah desa kecil yang masih dalam kekuasaan Daha, maka pemikiran kritis Calonarang bisa menjadi ancaman bagi kekuasaan yang absolut itu. Apalagi Calonarang hanyalah seorang janda sehingga issu-issu gender lebih mudah dimasukkan. Seperti misalnya, wanita lebih gampang mempelajari ilmu hitam dibandingkan laki-laki.

Dalam teks disebutkan Calonarang dengan murid-muridnya mendapat kekuatan dari Bhatari Bagawati, yang dalam keyakinan tradisional merupakan sakti Dewa Siwa. Dari sini ada hal yang mencurigakan, jangan-jangan pemikiran Calonarang adalah bagian dari filsafat Tantra yang merupakan hal baru di Jawa pada saat itu. Seperti yang kita ketahui di dalam masyarakat kita, pemikiran-pemikiran baru selalu mendapat menentangan dari budaya konservatif yang telah dianut umum. Jika penentangan ini dilakukan oleh negara atau konstitusi maka jadilah pemikir-pemikir baru itu sebagai sosok jahat. Calonarang sendiri akhirnya dibuat jahat dengan isu-isu ilmu hitam dan kematian banyak warga desa di Daha. Tidak ada analisis secara medis yang dilakukan saat itu terhadap kematian warga desa. Maklum Universitas Airlangga belum dibangun dan belum mewisuda dokter-dokternya. Maka disimpulkanlah itu adalah berbuatan Calonarang. Siapapun yang menentang dewa maka dia adalah kejahatan itu sendiri. Kesimpulan yang gampang bukan?
Kaum feminis Bali melihat cerita ini lebih pada pengorbanan seorang ibu demi kebahagian anaknya. Pandangan lain menyebutkan bahwa cerita ini mewakili dominasi laki-laki atas perempuan. Konflik-konflik yang terjadi antar kedua gender ini haruslah dimenangkan oleh laki-laki. Maunya sih!!
-----------------------------------------------------
Salam Hormat kepada Ibu, Nenek, semua leluhur perempuanku termasuk, Ni Diah Patri Keniten, Diah Ratna Manggali dan tentunya Calonarang.