Calonarang adalah seorang janda tua yang hidup di sebuah desa yang merupakan bagian dari wilayah kerajaan Daha di Jawa Timur. Dirah, nama desa itu. Sang janda yang mendapat julukan "Rangda ing Dirah" atau janda dari negeri Dirah memiliki seorang putri yang bernama Diah Ratna Manggali. Saat itu kerajaan Daha dipimpin oleh raja Airlangga yang sangat terkenal. Saking terkenalnya saat ini universitas di Jawa Timur diberi nama Universitas Airlangga. Beliau disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu. Dalam pandangan orang bijaksana, sebutan titisan Dewa Wisnu merupakan predikat yang diberikan kepada raja yang dalam pemerintahannya mampu mensejahterakan rakyat dan melindungi negeri dari bahaya luar. Namun bagi masyarakat umum saat itu, itu bukanlah predikat, namun sebuah dogma. Beliau memang titisan Dewa Wisnu.
Dikisahkan bahwa tak ada pemuda dari seluruh kerajaan yang mau menjadikan Manggali istri karena kabar yang santer terdengar Calonarang adalah penganut ilmu hitam. Sesungguhnya Manggali adalah gadis desa yang cantik, berbudi baik dan ramah kepada semua orang. Namun gadis malang ini menjadi korban dari predikat yang disandang oleh sang i
bu. Karena tidak ada yang mau melamar anak gadisnya yang sudah mulai memasuki usia nikah, murkalah sang janda. Dengan kekuatan yang dimilikinya dan dibantu oleh beberapa muridnya, Calonarang menyebarkan kekuatan teluh yang didapat dari Bathari Bhagawati. Satu persatu warga desa tewas karena wabah penyakit.
Kabar tentang kejahatan Calonarang akhirnya sampai di telinga raja. Berbagai upaya dikerahkan oleh raja untuk mengalahkan sang janda dari Dirah, termasuk menitahkan patih kerajaan, namun ternyata sia-sia. Akhirnya brahmana kerajaan Empu Bharadah dimintai bantuan. Sang Brahmana mengutus muridnya Empu Bahula untuk menyelidiki kekuatan Calonarang. Kedatangan Empu Bahula ke desa Dirah disambut penuh suka cita oleh Calonarang. Tentunya juga Diah Ratna Manggali. Singkat cerita akhirnya mereka menikah. Keduanya hidup bahagia sebagai suami-istri, namun tugas kerajaan tetap harus dijalankan. Beberapa bulan di desa Dirah membuat Empu Bahula tahu sumber kekuatan sang mertua.
Dengan diketahuinya rahasia kekuatan Calonarang, Empu Bharadah akhirnya dapat mengalahkan Calonarang dan kerajaan Daha tentram kembali. Kisah ini diakhiri dengan kematian Calonarang yang penuh kebahagiaan karena Diah Ratna Manggali telah menemukan tambatan hatinya.
Sampai sekarang kisah ini tetap menjadi kisah yang menarik di Bali dan dijadikan tema utama dari berbagai kesenian seperti drama tradisional dan wayang kulit. Setiap pementasan cerita Calonarang selalu dihiasi dengan unsur magis yang menyebabkan pementasan menjadi menyeramkan. Semua pementasan yang berhubungan dengan Calonarang selalu menempatkan Calonarang sebagai tokoh antagonis yang menjadi simbol kejahatan. Kata "Rangda" di Bali mengalami pergeseran makna dimana "Rangda" saat ini digunakan sebagai istilah bagi sosok mengerikan dengan rambut panjang berjuntai, mata melotot, taring panjang, ditambah dengan lidah panjang yang selalu menjulur. Dalam tari Barong, rangda mewakili sifat jahat manusia dan barong mewakili sifat baik manusia. Padahal rangda awalnya berarti janda atau wanita yang telah ditinggal suaminya.
Sekarang ini banyak analisis yang dilontarkan sehubungan dengan cerita ini. Salah satunya adalah, dalam teks yang ditemukan dalam bahasa Jawa Kuno tidak diceritakan kondisi politik kerajaan Daha saat itu. Predikat titisan Wisnu yang disandang raja menjadikan kekuasaan raja absolut, sehingga pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan kebijakan kerajaan akan dianggap sebagai pikiran jahat yang harus ditumpas. Desa Dirah sendiri adalah desa kecil yang masih dalam kekuasaan Daha, maka pemikiran kritis Calonarang bisa menjadi ancaman bagi kekuasaan yang absolut itu. Apalagi Calonarang hanyalah seorang janda sehingga issu-issu gender lebih mudah dimasukkan. Seperti misalnya, wanita lebih gampang mempelajari ilmu hitam dibandingkan laki-laki.
Dalam teks disebutkan Calonarang dengan murid-muridnya mendapat kekuatan dari Bhatari Bagawati, yang dalam keyakinan tradisional merupakan sakti Dewa Siwa. Dari sini ada hal

yang mencurigakan, jangan-jangan pemikiran Calonarang adalah bagian dari filsafat
Tantra yang merupakan hal baru di Jawa pada saat itu. Seperti yang kita ketahui di dalam masyarakat kita, pemikiran-pemikiran baru selalu mendapat menentangan dari budaya konservatif yang telah dianut umum. Jika penentangan ini dilakukan oleh negara atau konstitusi maka jadilah pemikir-pemikir baru itu sebagai sosok jahat. Calonarang sendiri akhirnya dibuat jahat dengan isu-isu ilmu hitam dan kematian banyak warga desa di Daha. Tidak ada analisis secara medis yang dilakukan saat itu terhadap kematian warga desa. Maklum Universitas Airlangga belum dibangun dan belum mewisuda dokter-dokternya. Maka disimpulkanlah itu adalah berbuatan Calonarang. Siapapun yang menentang dewa maka dia adalah kejahatan itu sendiri. Kesimpulan yang gampang bukan?
Kaum feminis Bali melihat cerita ini lebih pada pengorbanan seorang ibu demi kebahagian anaknya. Pandangan lain menyebutkan bahwa cerita ini mewakili dominasi laki-laki atas perempuan. Konflik-konflik yang terjadi antar kedua gender ini haruslah dimenangkan oleh laki-laki. Maunya sih!!
-----------------------------------------------------
Salam Hormat kepada Ibu, Nenek, semua leluhur perempuanku termasuk, Ni Diah Patri Keniten, Diah Ratna Manggali dan tentunya Calonarang.