0 comments Monday, September 24, 2007

Desember nanti, di Bali akan berlangsung konferensi internasional berkaitan dengan masalah perubahan iklim (Conference of Parties-COP13). Untuk menyambut acara yang katanya akan membahas Global Warming, maka sebaiknya kita lihat-lihat sejenak hal-hal yang berkaitan dengan pemanasan global ini.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer laut dan daratan bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer.

Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepatyang rusak hutannya.

Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke Bumi. Rata-rata temperatur permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit).

Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 - 5,8 derajat Celsius (2,5 - 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 - 100 cm (4 - 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau.

Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi.
Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh pemanasan global ini sangat besar sehingga ilmuan-ilmuan ternama dunia menyerukan perlunya kerjasama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan diadakannya konfrensi di atas.


















































































































































































































0 comments Thursday, August 30, 2007

Satu persatu adik-adik Yudistira menghembuskan nafas terakhirnya, dimulai dari permaisuri Drupadi, si kembar Nakula dan Sahadeva, kemudian disusul oleh panglima perang Pandawa, Arjuna. Semua tidak tahan lagi dengan dinginnya salju abadi Himalaya, bahkan Bima yang sangat kuatpun akhirnya meninggal dalam kebekuan. Maka tinggal Yudistira melanjutkan pendakian dengan seekor anjing yang dari awal perjalanan mengikuti perjalanan para Pandawa menuju Sorga. Kadang kala anjing itu diangkatnya karena kasihan dan kadang pula dilepas kembali ketika Yudistira tidak kuat lagi menggendong anjing kecil itu.

Keteguhan hati Pandawa tertua yang dikenal sangat bijaksana ini akhirnya membawa kedua makluk berlainan spesies ini mencapai puncak Himalaya. Ketika sampai di puncak, Dewa Brahma menampakkan diri dari menyapa Yudistira.

“Karena keteguhan hatimu, Yudistira, aku akan mengangkatmu menuju Sorga.”
“Hamba ucapkan terima kasih,Dewa.” Yudistira mengucapkan terima kasih itu dengan bersimpuh di hadapan Dewa Brahma yang berwibawa itu.
Anjing kecil yang setia menemani pendakian itu seakan ikut bersimpuh walaupun kelihatan tidak mengerti dengan pemandangan di hadapannya. Ia telah menganggap Yudistira sebagai tuan dan juga sahabatnya.

“Tapi, engkau harus mengerti, wahai Putra Pandu, sorga bukanlah tempat tepat buat seekor anjing. Maka tinggalkanlah anjingmu itu di sini.”
“Bolehkah hamba bertanya wahai Dewa yang Agung?” Yudistira berusaha mencari jawaban.
“Silakah, Anakku.”
“Mengapa Dewa mengatakan sorga bukan tempat yang tepat buat seekor anjing?”
“Karena Sorga adalah hadiah bagi kebaikan di dunia ini dan hanya manusia yang mengenal perbuatan baik dan buruk.”
“Apakah anjing yang setia tidak bisa dikatakan telah berbuat baik? Hamba pun tidak tahu nama dan siapa pemilik anjing kecil ini, tapi di begitu setia menemani pendakian ini. Jika dia tidak bisa ikut dalam perjalanan hamba ke sorga maka hamba lebih baik tetap di sini. Hamba akan menemani anjing ini di sini dan melupakan sorga yang dianggap sebagai hadiah kebaikan di dunia ini.”

Kata-kata Yudistira membuat Sang Dewa tertegun. Angin dingin seperti menusuk daging dan merambat ke tulang. Yudistira masih bersimpuh menunggu apa yang akan dikatakan Dewa Brahma. Tapi ia tetap pada pendiriannya semula. Masuk sorga dengan anjing kecil ini atau tidak sama sekali. Selama hidup ia melakukan kebajikan bukanlah untuk mendapat hadiah sorga tapi kebajikan adalah kewajiban manusia.

Ia menundukkan wajahnya. Matanya hanya menatap salju yang ada di bawah tubuhnya yang telah kurus dan menggigil.

“Lihatlah, wahai pahlawan bangsa Kuru!” Sang Dewa bersabda.”Lihatlah siapa di sampingmu!”

Yudistira menoleh ke samping kiri. Dia tidak melihat anjing kecilnya lagi. Ia juga melihat ke segala penjuru tapi anjing itu tidak ada lagi. Kini di hadapannya berdiri dua dewa. Tapi matanya tetap mencari-cari dimana anjing kecil itu.

“Anakku,” Sang Dewa yang lain menyapa Yudistira,”aku Dewa Dharma yang mengikutimu sejak awal pendakian ini. Akulah anjing kecilmu itu.”

Yudistira tertegun.

“Jangan bingung, anakku.” Dewa Dharma berusaha menyadarkan Yudistira dari kebingungannya.
“Maafkan hamba, Dewa. Hamba tidak tahu.” Yudistira gelagapan.
“Kau tidak perlu minta maaf, anakku. Saatnya kau ke sorga dengan segala perbuatan baikmu.” Seketika itu juga Dewa Dharma menghilang dari pandangan.

“Ayolah, pahlawan. Kita berangkat.” Dewa Brahma mengulurkan tangan perkasanya dan mengangkat Yudistira menuju sorga.

Posting ini diadaptasi dari bagian terakhir Epos Mahabharata yaitu Swargarohana Parwa yang ditulis Maharesi Vyasa. Swargarohana Parwa sendiri menceritakan perjalanan Pandawa dan Drupadi menuju sorga yang dipercaya dengan cara mendaki gunung Himalaya setelah menyerahkan singgasana kepada Parikesit, cucu Arjuna.

Posting ini aku dedikasikan buat anjing kecilku, Piko (Gendut) yang mati hari ini. Semoga ada sorga bagi anjing. Semoga ada alasan yang baik mengapa Nabi Nuh menyertakan anjing dalam bahteranya selain untuk dianggap najis di kemudian hari.

1 comments Tuesday, August 28, 2007


Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan."

Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :

1. Matikan listrik.(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).

2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).

3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).

4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11. Say no to plastic.Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12 Jng membakar sampah, terutama sampah plastik

13. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.



Sumber : Kampanye, www.walhi.or.id

0 comments Thursday, August 2, 2007


Berciuman bibir di depan umum bagi sebagian orang adalah hal tabu apalagi di Indonesia yang rencananya akan diberlakukan UU Pornografi dan Pornoaksi. Ditangkap, ditahan, dan didenda sejumlah uang yang nilainya menakutkan. Siapa berani? Untuk itu, berciuman biasanya dilakukan di tempat-tempat tersembunyi oleh pasangan-pasangan baik suami-istri, pacar, selingkuhan dan pasangan-pasangan lain punya acara ciuman bila bertemu baik wajib, terpaksa maupun dipaksa.

Di kalangan anak muda sekolahan lebih berbahaya lagi, karena selain tuntutan hukum nantinya (kalau RUU itu jadi disahkan) juga beresiko didamprat ortu kalau ketahuan. Bisa-bisa dihukum tahanan rumah, dilarang bertemu pacar atau yang paling parah tidak diberi uang saku selama sebulan. Mampus! Makanya singkat kata, singkat cerita, hatilah-hatilah berciuman karena banyak masalah di belakangnya.

Tapi tanyakan kepada anak-anak muda yang lahir di Banjar Sesetan Kaja, Denpasar dan menjadi anggota Sekaa Teruna (Organisasi Pemuda tingkat RT/RW di daerah lain--red) Satya Dharma Kerthi, Banjar Sesetan Kaja, Denpasar, siapa yang pernah disemprot ortu gara-gara berciuman di depan umum, berbasah-basah dan ditonton banyak orang. Jawabannya pasti "tidak ada". Atau kita akan mendapat tambahan kata,"Mereka juga senang kok melihatnya." Wah! Ini pasti aneh. Orang tua senang melihat anak mereka dicium anak tetangga di depan umum. Orang tua macam apa ini?

Acara ciuman di depan umum ini terjadi setiap tahun di Banjar Sesetan Kaja, Denpasar. Acara ini disebut Med-Medan, sebuah kegiatan ritual yang laksanakan oleh banjar tersebut yang melibatkan semua anggota sekaa teruna. Tepatnya dilaksanakan sehari setelah hari raya Nyepi. Kegiatan budaya ini sangat unik dan pelaksanaannya terus dipertahankan dari tahun ke tahun. Ciuman? Inilah uniknya kegiatan ini.

Acara dimulai dengan berkumpulnya anggota sekaa teruna di halaman bale banjar (bale masyarakat Bali---red juga), setelah melakukan persembahyangan, selanjutnya anggota cewek dan cowok dipisahkan dan membuat barisan. Barisan cowok menghadap Utara dan barisan cewek menghadap ke Selatan. Ketika barisan sudah saling berhadapan, masing-masing kelompok menunjuk salah seorang anggota yang akan dipertemukan dengan lawan jenisnya. Setelah semuanya sepakat, barisan akan akan maju saling mendekati karena didorong. Setelah jarak begitu dekat ujung barisan akan berangkulan, si cowok akan berusaha mencium si cewek. Entah bagian wajah mana yang sempat dicium karena ketika itu terjadi panitia akan menyiramkan seember air dan masing-masing barisan akan menarik ujung barisan yang saling berangkulan itu. Syukur jika dapat mencium bibir karena tidak akan ada kesempatan lagi karena yang sudah dapat giliran harus kembali ke barisan dan berada paling belakang dengan keadaan basah kuyup.

Semua akan tertawa dan bergembira melihat kegiatan budaya ini. Coba saja bayangkan melihat tingkah konyol cowok-cowok yang teramat berambisi buat mencium pasangannya dan cewek-cewek yang malu-malu tapi tetap saja didorong teman-teman di belakangnya. Pasti seru. Tapi maaf, jika pacar sedang menonton dilarang cemburu.

Med-Medan, berasal dari kata "omed" yang artinya "tarik". Jadi secara sederhana "Med-Medan" berarti saling tarik-menarik dan komponen utama dari kegiatan ini adalah adanya usaha saling dorong dan tarik oleh kedua kelompok cowok dan cewek. Jadi kegiatan utamanya adalah mendorong, berangkulan, menyiram, dan menarik kembali. Nah, pas ketika berangkulan itulah wajah saling berpadu. Pada jaman dahulu, ketika wajah bertemu wajah dalam istilah orang Bali disebut "mediman". Ketika dicari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia didapatkan kata "berciuman". Nah, di sini letak uniknya kata "berciuman" jika dipakai oleh anak muda. He..he... apa bertemu apa, ayo??

Med-medan adalah sebuah tradisi yang awalnya adalah sebuah penentangan terhadap penguasa daerah (tokoh puri) pada jaman dahulu yang melarang diadakannya “keramaian” di wilayah itu karena beliau sedang sakit. Tetapi warga banjar memberanikan diri menyelenggarakan keramaian dengan segala risiko. Mendengar adanya keramaian, tokoh puri yang sedang sakit, berusaha mendatangitempta acara. Tetapi aneh, sakit yang dideritanya sembuh seketika setelah menyaksikan acara tersebut.


Pada jaman Belanda tradisi ini pernah dilarang, tetapi masyarakat tetap melaksanakannya secara sembunyi-sembunyi, hal ini terkait dengan kepercayaan warga bahwa bila tradisi ini tidak digelar maka akan ada hal-hal yang tidak diingini akan terjadi. Seperti halnya pengalaman para tetua terdahulu yang pernah meniadakan tradisi ini, entah darimana tiba-tiba sepasang babi yang tidak diketahui asal-muasalnya berkelahi di halaman Pura Banjar. Darah babi pun berceceran di mana-mana. Warga banjar yang melihat kejadian itu berusaha melerainya, tetapi tak berhasil. Akhirnya, ada bawos (wahyu/wangsit----red lagi) agar Med-medan tetap dilangsungkan. Begitu tradisi itu dilangsungkan, kedua ekor babi itu menghilang tanpa jejak. Darah yang tadinya terlihat membasahi tanah, hilang seketika. Sejak itulah warga tidak berani lagi meniadakan Med-medan sehingga lestari sampai sekarang.

Banyak kalangan mengatakan bahwa kegiatan ini menyuguhkan tontonan pornoaksi kerena dipandang dari sudut berciuman di depan umum yang dapat merangsang birahi peserta kegiatan dan penontonnya. Terutama yang tidak pernah melihat langsung kegiatan ini. Untuk menepis jauh kecurigaan tentang adanya pornoaksi, cobalah datang ke Sesetan Kaja, Denpasar. Jangan lupa menyiapkan diri untuk tertawa dan bergembira karena semua akan tertawa dan bergembira.
Foto diambil dari situs blog.baliwww.com